jumlah pengunjung

Jumat, 31 Mei 2013

Salafi di Indonesia



  1. Latar Belakang
Salafi sesungguhnya adalah sebuah kata yang indah. Betapa tidak indah, saat kita menyebutkan kata ini, maka saat itu juga anda akan terbang melintasi ruang waktu menuju sebuah kurun masa terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, sejak diciptakan. Dialah kurun para sahabat mulia Rasululloh SAW, para tabiin dan pengikut-pengikut meraka. Sebagai mana sabda nabi:
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم.
 “Manusia yang paling baik adalah manusia yangb berada di masaku, kemudian manusia yang datang setelah mereka dan kemudain yang datang setelah mereka.”[1]
 Rasulullah dan Para Sahabat merupakan tauladan bagi ummat setelahnya, karena apa yang dilakukan Rasululloh adalah semata-mata wahyu dari Alloh. Oleh karena itu kita wajib mengikuti apa yang datang dari Rasululloh. Sebagaimana firman Alloh, Yang Artinya:
 apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.[2]
Dalam hadist juga disebutkan:
فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهدين عضوا عليها بالنواجذ
“hendaklah kalian berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian.”[3]
Imam Malik menyatakan, “Urusan umat ini tidak akan pernah baik kecuali dengan (mengikuti) kebaikan yang pernah dijalani generasi awalnya.”[4]
Namun, di zaman sekarang ada orang yang menngatasnamakan salafi atau yang disebut dengan aliran salafi. Bagaimana yang terjadi dengaan selafi sekarang? Kalau kita melihat fenomena yang terjadi sekarang maka sangat jauh sekali dengan apa yang dicontohkan oleh Rasululloh. Mereka (salafi) gampang membidahkan, mengkafirkan,menghancurkan kuburan, dan menghacurkan sesuatu yang mempunyai nilai sejarah. apakah rasulullah dan para sahabatnya mengajarkan seperti itu? Tentunya tidak. Dakwah rasulullah dengan cara yang lemah lembut. Sehingga mudah untuk diterima oleh masyarakat luas, seandainya dakwah Rasulullah kasar kepada orang-orang kafir maka mereka akan semakin lari dan menjauh dari dakwah Beliau. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-quran. Firman Alloh, yang artinya :
 Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.[5]
Aliran salafi terus berkembang, sampai-sampai Negara Indonesia sudah mulai menyebar dakwahnya? Bagaimana sebenarnya salafi di Indonesia itu sendiri? Oleh karena pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang aliran salafi di Indonesia.










  1. Pembahasan
  1. Makna Salaf.
As-salaf (Salafus-Shalih) adalah para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik, juga para imam agama yang adil seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’I,Ahmad, Ibnul Mubarok, Sufyan Ats-Tsauri dan Ibnu Uyainah. Sedangkan salafi adalah orang yang mengikuti mereka sampai sekarang dari ahlu Sunnah Wal Jamaah.[6]
     Salifiah bukanlah gantian dari agama, akan tetapi salafiah adalah metode pemahaman    islam dan pengamalannya dengan kembali kepada sejarah salafus-shalih.[7]
  1. Kaidah metode salafiah ada 3
1.             Mendahulukan syara’ (nash) atas akal
Dalam Naqdhul Mantiq hlm.309, Ibnu Taimiyah berkata, “yang masuk akal menurut kami adalah apa yang sesuai dengan petunjuk mereka (sahabat dan tabi’in), dan yang tidak masuk akal adalah apa yang menyalahi mereka. Tidak da jalan untuk mengetahui petunjuk dan jalan mereka kecuali dengan mempelajari atsar (perkataan sahabat dan tabi’in)
Rusaknya pemikiran orang yang mendahulukan akal atas dalil syar’i. Imam Ibnu Qoyyim berkata dalam bukunya Ighotsatu I-lahfan, II/78, “sumber dari seluruh bencana yang ada yaitu didahulukannya akal atas sariat dan didahulukannya hawa nafsu atas dalil syar’i.”[8]
Jalan salafus-sahalih adalah yang menundukkan akal kepada nash -tidak sebaliknya-, berbeda dengan jalan ahli kalam seperti muktazilah juga asy’ariyah yang mendahulukan akal dan menakwilkan nash sesuai atau mengikuti akal.[9]
2.             Menolak takwil teologi (At-Takwil Al-kalami)
3.             Mengutamakan Ayat-ayat al-qur’an sebagai dalil
Dalam kitab Al-Furqon hln. 47, ibnu taimiyah berpendapat: bahwa tidak ada satu masalah pun dari masalah-masalah kalam dan filsafat yang dipelajari kecuali itu semua telah dijelaskan di dalam al-Qur’an

  1. Sejarah Salafi Di Indonesia.
Paham salafiyah yang masuk ke Indonesia bermacam-macam warnanya, warna yang paling asli adalah dakwah Imam Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahulloh yang dibawa oleh ulama-ulama di Sumatera Barat pada awal abad ke-19.inilah salafiyah yang pertama di Indonesia, dikenal sebagai kaum padri, di jaman kolonial berperang melawan kaum adat dan belanda.[10] 
Penyebaran aliran Wahabi ke wilayah Nusantara dibawa oleh para haji yang baru pulang menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Salah satunya melalui kaum Padri di Minangkabau yang dikembangkan tiga tokoh. ketiga tokoh yang tertarik dengan ajaran Wahabi itu adalah Haji Miskin dari Lu(h)ak Agam, Haji Abdur Rahman dari Piobang, bagian dari Lu(h)ak Limah Puluh Kota, dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik, Batusangkar.
Sekembali dari Tanah Suci antara tahun 1803 dan 1804, Haji Miskin membawa ide bahwa perubahan total dalam masyarakat Minangkabau yang (dalam anggapannya) tidak sesuai dengan ajaran Alquran harus dilakukan melalui kekuatan sebagaimana dilakukan kaum Wahabi di Arab.
Secara prinsip, ide itu juga diamini oleh dua Haji yang lain. Sejak saat itu, gerakan kaum Padri mulai berusaha menancapkan pengaruhnya di berbagai daerah Minangkabau. Menurut dia, dalam upaya melakukan perubahan radikal, gagasan-gagasan tiga Haji itu mendapat tantangan keras dari guru-guru Tarekat Syattariyah.
Usaha ketiga tokoh itu dan tidak dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan. Haji Miskin misalnya, yang berasal dari Empat Angkat, Agam, tidak mampu meyakinkan Tuanku Nan Tuo, tokoh agama yang dulu menjadi teman seperdagangan sebelum berangkat ke Tanah Suci mengenai pola keagamaan yang akan dikembangkan.
Karena itu ia pergi ke Enam Kota, dan tinggal di Pandai Sikat. Di sini ia tidak begitu berhasil melakukan pembaharuan, dan terpaksa angkat kaki menuju Kota Lawas. Setelah mengalami beberapa kesulitan, akhirnya Haji Miskin bersama Kaum Padri berhasil mengenalkan pembaharuan mereka.
Dengan berlalunya waktu, para pemukanya saling berhubungan satu dengan yang lain sehingga gerakan Padri menjadi satu komunitas yang relatif terorganisir. Kekuatan kaum Padri mulai menemukan pijakan yang kokoh ketika pada 1811. Saat itu, Haji Miskin sampai di Bukit Kamang dan bertemu dengan Tuanku Nan Renceh, pemuka agama yang juga bervisi sama.
Di sana mereka sepakat merencanakan pembaharuan masyarakat secara total. Mereka didukung oleh enam pemuka lain yang kemudian disebut Harimau Nan Selapan (karena jumlahnya delapan orang).  Mereka adalah Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalan, dan Tuanku di LubukAur.
Selanjutnya, pada tahun 1813 Tuanku Lintau ikut bergabung dan menjadi penganut fanatik ajaran-ajaran kaum Padri.
Sejatinya jauh sebelum itu, sekitar tahun 1807, Tuanku Muda dari Alahan Panjang dan nantinya disebut Tuanku Imam Bonjol ikut memperkuat posisi kaum Padri.
Melalui tangan dingin para pemuka itu, kaum Padri berkembang menjadi gerakan yang menyebar di alam Minangkabau dengan segala karakteristiknya dan nantinya menguasai seluruh nagari di sana.
”Sejarah mencatat, kaum Padri tidak hanya melakukan pembaharuan keislaman di daerah Minangkabau semata. Kelompok ini juga melakukan islamisasi ke Tapanuli Selatan yang terletak di utara alam Minangkabau dan daerah-daerah sekitarnya,” ujar Prof Abd A’la. 
Setelah itu, paham Wahabi masih berkembang pesat di Indonesia. Pengikut manhaj dakwah Muhammad bin Abdul Wahab sangat sangat pesat pekembangannya.
  1. Sekte-Sekte Salafi
secara garis besar bahwa komunitas Salafy di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain sebenarnya saling “bermusuhan”. Satu kelompok ialah Salafy Yamani yang merupakan kelanjutan dari Laskar Jihad di masa lalu, dan mereka merupakan jaringan para dai Salafy yang berafiliasi kepada Syaikh-Syaikh Salafy di Yaman dan Timur Tengah. Sedangkan satu kelompok lagi ialah Salafy Haraki, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan atau organisasi (Haraki).
Salafi yamani dan salafi haraki mempunyai perbedaaan, salah satunya, Salafy Yamani sangat menolak metode pergerakan (Harakiyah), sebab hal itu dianggap sebagai bid’ah dan merupakan praktik fanatisme (hizbiyah). Sementara kalangan Salafy Haraki membutuhkan sistem organisasi (tanzhim) untuk membina dakwah di tengah berbagai fitnah kehidupan modern. Mereka menganggap penerapan sistem organisasi itu sebagai bentuk ijtihad yang diperbolehkan dalam Islam. Kedua belah pihak menempuh pendapat masing-masing dan bertahan dengan pendapat yang diyakininya.
  1. Media Salafi
Orang-orang salafi juga mempunyai media dakwahnya untuk menyebarkan dakwahnya kepada masyarakat secara luas denga membuat situs resmi mereka. Diantaranya:
1.      SALAFI Indonesia-ASSUNNAH Online, Situs SALAFY Ahlus Sunnah : http://darussalaf.or.id
2.      Radio Roja
3.      www. Atturots.co.id
      D. Lembaga dakwah[11]
            Islamic Centre Bin Baz
Embrio Islamic Centre Bin Baz (ICBB) sudah ada sejak tahun 1993 berupa Ma’had Tahfizhul Quran. Pada tahun 1996 kegiatan yang sebelumnya berlokasi di Sedan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman ini dipindah ke Ma’had Jamilurrahman yang beralamat di Glondong Sawo Banguntapan Bantul, dikukuhkan dengan Surat Keputusan Depag No: E9686 Tgl 30 Juli 1996.
Ma'had Jamilurrahman As-Salafy
Ma’had ini berada di Dusun Sawo, Glondong, Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Menempati gedung dua lantai (untuk putra) yang dibangun pertengahan tahun 1995 atas biaya dari sumbangan sejumlah muhsinin Arab Saudi.
Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy
Berawal dari keprihatinan akan umat Islam serta bangsa ini pada umumnya, juga demi tegaknya Dakwah Salafiyah yang betul-betul menjalankan ajaran Islam itu menurut Al-Qur’an dan Sunnah, dan tidak dicampuri aau dikotori oleh kesyirikan dan bid’ah pada khususnya, maka Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy yang berkedudukan di Kompleks Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz (ICBB) di Karanggayam, desa Sitimulyo, kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul berkeinginan berpartisiasi dan peduli kepada masyarakat untuk mendirikan sarana kesehatan yang benar-benar menjadi rumah sakit Islam yang menjalankan syari’at Islam.
  1. Perbedaan Antara Salafi dengan Kelompok lain.
Pernah saya melihat bedah buku yang berjudul ‘Mazhab As-ari, benarkah Ahlus Sunnah Waljamaah, Bantahan terhadap salafi’. Karangan Muhammad Idrus Ramli, di dalam acara bedah buku tersebut hadir dari pembicara salafi yaitu ustad Abu Hilal, dalam dialognya Beliau mengatakan bahwa, “perbedaan salafi dengan kelompok lain yaitu dalam masalah mentakwil sifat-sifat Alloh, sedangkan yang lainnya tidak ada perbedaan. Orang salafi tidak melarang takwil, Akan tetapi dari Mazhab Imam Bin Hambal tidak berani dalam mentakwil sifat-sifat Alloh , selain dari sifat-sifat Alloh meraka juga mentakwil”.
  1. Kesimpulan
1.      Salafi adalah generasi yang terdahulu yang patut diikuti
2.      Pertama kali salafi masuk ke Indonesia pada abad ke 19, tepatnya di Sumatera Barat
3.      Komunitas Salafi besar ada 2 Yaitu Salafi Yamani dan Salafi Haraki
4.      Salafi juga mempunyai media dakwah dan lembaga dakwah
5.      Tokohnya adalah Imam Ahmad Bin Hambal, Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab.



















DAFTAR PUSTAKA
Abu Abdirrahman Al Thalabi, Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak Jakarta: Hujjah Press, 2006
Tim Ulin Nuha: Potret Salafi Sejati Solo: Alqowam,2008
Said Abdul Azhim, Ibnu Taimiyyah: Pembaruan Salafi dan Dakwah Reformasi, Terj. Faisal Saleh dan Khoerul Amru Harahap  Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005
www.Atturost.co.id



[1] Hadits shahih menurut Al-Albani dalam silsilah ash-shahihah, no. 699. Bisa juga dilihat Di Shohih Bukhori No. 6429 dan Muslim. No 2533.
[2] QS. Al-hasyar :Ayat ke 7
[3] HR.tirmizdzi no. 2676, Abu Daud no. 4607, dan Ahmad IV/26
[4] Tim Ulin Nuha: Potret Salafi Sejati (Solo: Alqowam,2008), cet ke.3, h. 13
[5] QS. Ali-Imran : Ayat ke 159
[6] Said Abdul Azhim, Ibnu Taimiyyah: Pembaruan Salafi dan Dakwah Reformasi, Terj. Faisal Saleh dan Khoerul Amru Harahap (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), cet ke.1, h. 33
[7] Ibid h. 34
[8] Tim Ulin Nuha: Potret Salafi Sejati (Solo: Alqowam,2008), cet ke.3, h. 126
[9] Ibid h. 43
[10] Abu Abdirrahman Al Thalabi, Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak (Jakarta: Hujjah Press, 2006), cet ke.1, h. 10
[11] Coba Lihat di www.Atturost.co.id

share on facebook

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar