jumlah pengunjung

Senin, 09 Desember 2013

Makna Framing



Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada dalam kategori penelitian konstruksionis. Analisis framing termasuk ke dalam paradigma konstruksionis. Paradigma ini mempunyai posisi dan pandangan tersendiri terhadap media dan teks berita yang dihasilkannya. Pertanyaan utama dalam pandangan konstruksionis adalah, fakta berupa kenyataan itu sendiri bukan sesuatu yang terberi, melainkan ada dalam benak kita, yang melihat fakta tersebut. Kitalah yang memberi definisi dan menentukan fakta tersebut sebagai kenyataan[1].
Pada dasarnya analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk membuat analisis teks media. Gagasan mengenai framing pertama kali dikemukakan oleh Beterson pada tahun 1955.[2] Pada awalnya, frame dimaknai sebagai sturuktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Analisis framing dipahami dan banyak digunakan dalam penelitian sebagai salah satu teknik analisis isi. Tetapi pada perkembangan berikutnya, analisis framing telah berubah menjadi seperangkat teori yang oleh sejumlah pakar komunikasi dipahami sebagai salah satu pendekatan untuk melihat bagaimana domain di balik teks media mengkonstruksi pesan.[3]
Menurut Erving Goffman secara sosiologis konsep frame analysis memelihara kelangsungan kebiasaan kita mengklasifikasi, mengorganisasi dan menginterpretasi secara aktif pengalaman-pengalaman hidup kita untuk dapat memahaminya.[4] Schemata interpretasi itu disebut frames, yang memungkinkan individu dapat melokalisasi, merasakan, mengidentifikasi dan memberi label terhadap peristiwa–peristiwa serta informasi. Secara metodologi analisis framing memiliki perbedaan yang sangat menonjol dengan analisis isi (content analysis). Analisis isi dalam studi komunikasi lebih menitikberatkan pada metode penguraian fakta secara kuantitatif dengan mengkategorisasikan isi pesan teks media.[5]
Pan dan Kosicki mendefinisikan konsep framing sebagai strategi konstruksi dan membuat berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa dan dihubungkan dengan rutinitas dan konversi pembentukan berita.[6] Pan dan Kosicki menyatakan bahwa terdapat dua konsepi dari framing yang saling berkaitan.[7] Pertama, dalam konsepsi psikologi yaitu cara seseorang memproses informasi dalam dirinya serta cara seseorang mengolah sejumlah informasi dan ditujukan dalam skema tertentu. Kedua, konsepi sosiologis yaitu bagiamana individu menafsirkan suatu peristiwa melalui cara pandang tertentu. Proses kerja ketika seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas di luar dirinya.[8]
Dalam pendekatan ini, perangkat framing dapat dibagi dalam empat struktur besar, adalah sebagai berikut:
Pertama, struktur sintaksis yaitu struktur yang berhubungan dengan bagaiamana wartawan menyusun peristiwa dalam bentuk susunan umum berita. Dapat diamati dari bagan berita (lead, latar, headline, kutipan yang diambil, dan sebagainya).
Kedua, struktur skrip yaitu yang berhubungan dengan bagiamana wartawan mengisahkan atau menceritakan peristiwa ke dalam bentuk berita. Ketiga, struktur tematik yaitu berhubungan dengan bagiaman wartawan mengungkapkan pandangan atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat atau hubugan antar kalimat yang membentuk teks secara keseluruhan.
Keempat, struktur retoris yaitu berhubungan dengan bagaiamana wartawan menekankan arti tertentu ke dalam berita. Struktur ini melihat bagaimana wartawan menekankan arti tertentu ke dalam berita. Sturuktur ini melihat bagaimana wartawan memakai pilihan kata, idiom, grafik dan gambar yang akan dipakai bukan hanya mendukung tulisan, melainkan juga menekankan arti tertentu kepada pembaca.[9]
Tabel 2.3
Skema Framing Model Pan dan Kosicki[10]

STRUKTUR
PERANGKAT FRAMING
UNIT YANG DIAMATI
SINTAKSIS
Cara wartawan menyusun fakta
1.        Skema Berita
Headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, pernyataan dan penutup
SKRIP
Cara wartawan mengisahkan fakta
2.        Kelengkapan Berita
5 W + 1 H
TEMATIK
Cara wartawan menulis fakta
3.        Detail
4.        Koherensi
5.        Bentuk Kalimat
6.        Kata Ganti
Paragraf, proposisi, kalimat, hubungan antar kalimat
RETORIS
Cara wartawan menekankan fakta
7.        Leksikon
8.        Grafis
9.        metafora
Kata, idiom, gambar/foto, grafik


[1] Eriyanto, op.cit h. 23
[2] Alex Sobur, Analisis Bingkai (Framing Analysis), dalam Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Anlisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), cet ke. 5, h. 157
[3] Alex Sobur Ibid
[4]  Alex Sobur, op.cit h. 163
[5] Analisis isi (content analysis) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mengambil kesimpulan dengan cara menemukan karakteristik pesan yang dilakukan secara obyektif dan sistematis. Lihat di Eko Kurniawan, “Studi Analisis Isi Pemberitaan Media Massa Tentang Lingkungan Hidup dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kabupaten Bangka” (Tesis S2, Program Studi Ilmu Lingkungan, Magister Ilmu Lingkungan, Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang, 2006), h. 38
[6] Eriyanto, op.cit h. 68
[7] Eriyanto, op.cit h. 252
[8] Eriyanto, op.cit h. 253
[9] Ibid h. 255-256
[10] Table dirumuskan dari, Alex Sobur, Kerangka Framing Pan dan Konsicki, dalam Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), cet ke. 5, h. 176

share on facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar